Call Center 021-87780015 Ext. 138
21 Mei 2019 13:43:01

SIAPA PEMILIK HARTA BENDA WAKAF

Oleh : Dr. Fachruroji, Lc. MA

Setiap manusia membutuhkan harta untuk menjalani
kehidupannya, dengan harta kebutuhan hidup sandang, pangan, papan atau
kebutuhan primer, sekunder, dan tersier dapat terpenuhi. Harta diperoleh dengan
bekerja atau  melalui pembelian,
pemberian, hadiah, hibah, waris, zakat, sedekah, dan infak yang kepemilikannya
dilindungi dan dijamin oleh undang-undang sehingga pemilik harta berhak
melakukan tindakan apa saja atas harta miliknya sepanjang tidak melanggar
peraturan perundang-undangan dan syariah. Pemilik harta berhak menggunakan
harta yang dimilikinya atau memindahkan kepemilikan hartanya kepada pihak lain
melalui berbagai jenis transaksi perpindahan kepemilikan harta. Perpindahan
harta atau perputaran harta akan menjamin berlangsungnya kehidupan manusia,
terpenuhinya kebutuhan hidup manusia, dan pengakuan atas kepemilikan harta yang
diperoleh seseorang dengan cara yang sah akan memberikan perlindungan dan
kepastian hukum serta mewujudkan ketertiban umum.





Menyoal tentang transaksi perpindahan harta dan kepemilikan
harta, ada satu jenis transaksi perpindahan harta yang jika dilakukan, maka
status kepemilikannya hilang bukan saja dari pemilik harta itu, tetapi memang
harta itu tidak lagi dimiliki oleh siapapun yaitu transaksi wakaf. Seseorang
yang telah mewakafkan harta miliknya berarti mengeluarkan harta itu dari
kepemilikannya atau kepemilikannya atas harta itu menjadi hilang dengan
perbuatan wakaf yang dilakukannya, karena ia telah mengembalikan hartanya
kepada pemilik mutlak semua harta yaitu Allah SWT. Harta benda wakaf bukan lagi
menjadi milik wakif tetapi kepemilikannya berpindah menjadi milik Allah SWT
yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan umum. Jika harta benda wakaf milik Allah,
bukankah semua harta pada hakikatnya milik Allah akan tetapi secara hukum
diberikan pengakuan hak milik atas harta itu kepada orang/pihak yang
memilikinya atau menguasainya secara sah. Lantas, bagaimana dengan harta benda
wakaf yang telah dikembalikan kepemilikannya kepada Allah oleh pihak yang
berwakaf, siapa sebenarnya yang diakui secara hukum sebagai pemilik harta benda
wakaf?  





Dalam hukum fikih, kepemilikan harta benda wakaf dibahas
oleh ulama-ulama dari empat mazhab. Mazhab Maliki berpendapat bahwa kepemilkan
harta benda wakaf tetap berada pada wakif karena wakaf tidak menghilangkan
kepemilikan wakif atas harta benda yang diwakafkan. Namun demikian
kepemilikannya bersifat terikat, ia tidak berhak menjualnya atau tidak
melakukan tindakan hukum terhadap harta benda itu itu. Dalil yang digunakan
mazhab Maliki adalah: Pertama, Hadis Nabi yang menjelaskan wakaf Umar ra.
menurut sebagian riwayat berbunyi: 
Habbis al-Ashl wa Sabbil al-Tsamrah, menahan pokok harta tidak
menyebabkan keluarnya harta dari kepemilikan wakif tetapi tetap dalam
kepemilikan wakif. Kedua, wakaf adalah tindakan terhadap hasil pengelolaan
harta benda wakaf bukan terhadap harta bendanya kecuali sebatas tindakan yang
diperlukan untuk memperoleh hasil, dan itu tidak sampai menghilangkan
kepemilikan wakif atas harta benda wakaf karena tidak ada sebab yang
menghilangkannya sehingga kepemilikan harta benda wakaf tetap berada pada
wakif, sementara manfaatnya untuk mawquf alayh.





Mazhab Hanbali berpendapat bahwa kepemilikan harta benda
wakaf berpindah menjadi milik mawquf alayh. Jika seseorang mewakafkan rumahnya
kepada anak dari saudarnya yang laki-laki, maka rumah itu menjadi milik mereka.
Namun sesungguhnya, hak mawquf alayh yang ditetapkan atas harta benda wakaf
adalah hak pemanfaatan dan penguasaan atas hasil wakaf, dan itu tidak berarti
memiliki harta benda wakaf. Oleh karena itu, harta benda wakaf tetap milik
wakif sebab tidak ada dalil yang menghilangkannya.





Mazhab Syafi’i dan Hanafi berpendapat bahwa wakaf
mengeluarkan harta benda wakaf dari milik wakif menjadi milik Allah. Pendapat
ini berdasarkan dalil bahwa sebagian riwayat dalam hadis wakaf Umar ra. yang
masyhur berbunyi tashaddaq bi ashlihi la yuba’u wa la yuhabu wa la yuratsu,
mensedakahkan (mewakafkan) pokok harta mengharuskan keluarnya harta dari
kepemilikan wakif, dan tidak mungkin memasukannya dalam kepemilikan seseorang
karena ia hanya berhak atas hasilnya, sementara keluarnya harta karena wakaf
hanya mengharap ridha Allah maka harta benda wakaf itu menjadi milik Allah.    



Itulah pendapat mazhab fikih tentang kepemilikan harta benda
wakaf. Bagaimana dengan peraturan perundang-undangan tentang wakaf dalam
mengatur kepemilikan harta benda wakaf. Menurut pendapat penulis, tidak ada
ketentuan yang tegas mengatur tentang siapa pemilik harta benda wakaf; milik
Allah, milik wakif atau milik mawquf alayh. Hanya ada satu ayat yang menegaskan
soal kepemilikan harta benda wakaf yaitu ayat (2) pasal 3 Peraturan Pemerintah
No. 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang
Wakaf yang menyebutkan bahwa terdaftarnya harta benda wakaf atas nama nazhir
tidak membuktikan kepemilikan nazhir atas harta benda wakaf. Sesungguhnya sudah
jelas bahwa nazhir bukanlah sebagai pemilik harta benda wakaf karena ia hanya
sebagai pihak yang menerima harta benda wakaf untuk dikelola dan dikembangkan
sesuai dengan peruntukannya dan/atau untuk kepentingan mawquf alayh. Demikian
juga dengan mawquf alayh bukan sebagai pemilik harta benda wakaf, namun hanya
sebagai pihak yang ditunjuk untuk memperoleh manfaat dari peruntukan harta
benda wakaf sesuai pernyataan kehendak wakif yang dituangkan dalam akta ikrar
wakaf.





Melalui pasal 3 ayat (2) di atas, dapat dipahami bahwa tidak
ada orang atau pihak yang memiliki harta benda wakaf karena dengan telah
diserahkannya harta benda sebagai wakaf, maka berpindah kepemilikannya kepada
pemilik mutlak harta benda yaitu Allah SWT. Dengan demikian pemilik harta benda
wakaf secara tersirat adalah Allah SWT, dan inilah yang sesuai dengan pendapat
mazhab Syafi’i sebagai mazhab yang dianut oleh umat Islam di Indonesia.
Meskipun demikian, secara tersirat juga disebutkan kepemilikan wakif atas harta
benda wakaf dalam beberap hal, misalnya dalam Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun
2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf pasal 6
ayat (2) Dalam hal di antara nazhir perseorangan berhenti dari kedudukannya
sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 untuk wakaf dalam jangka waktu terbats dan
wakaf dalam jangka waktu tidak terbatas, maka nazhir yang ada memberitahukan
kepada wakif atau ahli waris wakif apabila wakif sudah meninggal dunia.
Kemudian Pasal 6 ayat (4) apabila nazhir dalam jangka waktu 1 (satu) tahun
sejak AIW dibuat tidak melaksanakan tugasnya, maka kepala KUA baik atas
inisiatif sendiri maupun atas usul wakif atau ahli warisnya berhak mengusulkan
kepada BWI untuk pemberhentian dan penggantian nazhir.





Selanjutnya pasal 27 Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2006
tentang Pelaksanaan Undang-Undang No. 41 Tahun 2004 tentang Wakaf menyebutkan
bahwa dalam hal wakif berkehendak melakukan perbuatan hukum wakaf uang untuk
jangka waktu tertentu maka pada saat jangka waktu tersebut berakhir, nazhir
wajib mengembalikan jumlah pokok wakaf uang kepada wakif atau ahli
waris/penerus haknya melalui LKS-PWU. Meskipun tidak ada penjelasan siapa
pemilik harta benda yang diwakafkan untuk jangka waktu sementara, namun secara
tersirat dapat dipahami bahwa harta benda wakaf sementara tetap milik wakif
sehingga ketika jangka waktu yang ditentukan berakhir maka wajib dikembalikan
kepada wakif atau kepada ahli warisnya apabila wakif sudah meninggal dunia. Hal
ini sebagaimana pendapat mazhab Maliki yang membolehkan wakaf sementara dan
menetapkan kepemilikan harta benda wakaf tetap menjadi milik wakif.





Seharusnya, ada ketegasan dalam soal kepemilikan harta benda
wakaf dengan secara jelas mengatur misalnya harta benda yang telah diwakafkan
selamanya telah keluar kepemilikannya dari wakif atau ahli warisnya atau tidak
lagi menjadi milik wakif atau ahli warsinya apabila wakif sudah meninggal
dunia, tetapi berpindah kepemilikannya menjadi milik Allah yang dikelola dan
dikembangkan oleh nazhir untuk kepentingan mawquf alayh. Dengan sudah jelasnya
harta benda wakaf milik Allah, maka tidak ada lagi penyebutan wakif atau ahli
warisnya sebagai pihak yang masih punya hak dalam pengusulan penggantian nazhir
misalnya atau dalam segala urusan yang terkait dengan wakaf kecuali hak
melakukan pengawasan dan pelaporan atas pengelolaan dan pengembangan harta
benda wakaf yang dilakukan oleh nazhir.





Demikian juga dengan harta benda yang diwakafkan untuk
jangka waktu tertentu atau sementara, dibuatkan aturannya secara jelas misalnya
kepemilikannya berpindah selama jangka waktu tertentu dari milik wakif menjadi
milik Allah sehingga selama jangka waktu itu wakif atau ahli warisnya apabila
wakif sudah meninggal dunia tidak berhak mengambilnya, menggunakannya,
menjualnya, menghibahkannya atau melakukan transaksi pemindahan kepemilikan
lainnya. Wakif atau ahli warisnya apabila wakif sudah meninggal dunia baru
berhak melakukan apa saja terkait kepemilikan harta benda manakala jangka waktu
wakafnya sudah berakhir dan telah menerima kembali hartanya yang diwakafkan
untuk jangka waktu tertentu.





Harta benda wakaf memang tidak sama dengan harta benda
lainnya dalam hal berhentinya atau tertahannya harta benda wakaf dari
perpindahan kepemilikan kecuali penukaran harta benda wakaf dengan harta benda
lainnya sebagai penggantinya (istibdal atau ruislagh). Akan tetapi harta benda
wakaf dan harta benda selain wakaf memiliki persamaan yaitu harus berfungsi
untuk kesejahteran manusia. Harta benda yang telah diserahkan sebagai wakaf
harus dikelola dan dikembangkan untuk keperluan ibadah dan atau kesejahteraan
umum menurut syariah. Dengan demikian wakif akan memperoleh pahala yang
berlipatganda dan berkelanjutan karena wakafnya bukan karena sebagai pemilik
harta benda wakaf, mawquf alayh meningkat kesejahteraannya karena sebagai
penerima manfaat wakaf bukan karena sebagai pemilik harta benda wakaf, nazhir
memperoleh imbalan karena sebagai pengelola harta benda wakaf bukan karena
sebagai pemilik harta benda wakaf. Pemilik harta benda wakaf adalah Allah SWT.




GRAHA PKPU Lt. 3
Jl. Raya Condet No. 27 G, Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Fax : (021) 877 800 13
Telephone : 021-87780015 Ext. 138
Email : info@iwakaf.or.id
Website : iwakaf.or.id
LINK - LINK LAINNYA

Daftar Bank iWakaf
Event
Konfirmasi Pembayaran
Berita & Laporan
Daftar Nama Wakif
Free eBooks