Call Center 021-87780015 Ext. 138
21 Mei 2019 13:46:32

WAKIF SEBAGAI MAUKUF 'ALAIH

Oleh : Dr. Fahruroji, Lc,
MA



Dalam wakaf yang menjadi esensinya adalah mawquf alayh yaitu
manfaat wakaf yang diterima oleh pihak yang ditetapkan oleh wakif pada saat
ikrar wakaf, atau berfungsinya harta benda wakaf sesuai dengan tujuan wakaf
yang selain untuk memenuhi ibadah kepada Allah SWT, juga untuk kepentingan
sosial, dakwah, dan ekonomi, seperti: menyediakan fasilitas umum, sarana dan
kegiatan ibadah, dakwah, pendidikan serta kesehatan, bantuan kepada fakir
msikin, anak terlantar, yatim piatu, pengembangan sumber daya manusia atau
pemberian beasiswa, bantuan permodalan, penyediaan lapangan kerja, mengurangi
kemiskinan, meningkatkan ekonomi umat, dan mengurangi beban anggaran negara.
Manfaat wakaf yang diterima oleh mawquf alayh secara berkelanjutan inilah yang
menjadikan wakaf sebagai sedekah jariyah yang pahalanya terus mengalir kepada
wakif meskipun ia telah meninggal dunia.



Pemenuhan hak mawquf alayh dari harta benda wakaf dapat
dilakukan secara langsung melalui wakaf langsung atau dari hasil pengelolaan
dan pengembangan harta benda wakaf melalui wakaf produktif. Yang dimaksud
dengan wakaf langsung adalah wakaf yang digunakan untuk memberikan pelayanan langsung
kepada mawquf alayh seperti masjid sebagai tempat shalat, sekolah sebagai
tempat belajar, majelis taklim tempat mengaji, dan pelayanan langsung lainnya
yang mencerminkan manfaat nyata atas harta benda wakaf. Adapun yang dimaksud
dengan wakaf produktif adalah wakaf untuk kegiatan-kegiatan usaha produktif
atau wakaf yang tidak dimaksudkan untuk dimanfaatkan secara langsung, namun
dikelola secara produktif yang hasilnya untuk kepentingan mawquf alayh.



Berbeda dengan zakat yang sudah ditetapkan dalam al-Qur’an
siapa saja mustahik yang berhak menerima zakat, dalam wakaf tidak ada ketetapan
secara khusus pihak mana saja yang berhak menerima manfaat wakaf, sehingga
bentuknya bisa bermacam-macam sesuai dengan yang dikehendaki oleh wakif pada
saat ikrar wakaf, atau sesuai dengan tujuan wakaf, atau sesuai dengan semangat
filantropi Islam lainnya yaitu zakat, infak, dan sedekah yang tujuan utamanya
adalah membantu fakir miskin dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam wakaf,
wakif memiliki kebebasan atau otoritas penuh untuk menetapkan mawquf alayh pada
saat ikrar wakaf dan ketetapannya bersifat mengikat, tidak boleh diubah, dan
harus dilaksanakan. Namun, jika ada wakaf yang belum ditetapkan mawquf
alayh-nya oleh wakif, penetapan mawquf alayh dilakukan sesuai dengan tujuan
wakaf atau untuk keperluan fakir miskin.



Kebebasan dalam menetapkan mawquf alayh ini dalam praktiknya
memunculkan banyak kreasi yang dibuat oleh lembaga wakaf dalam membuat produk
wakaf untuk menarik minat orang atau lembaga agar mau berwakaf, ada yang
membuat produk wakaf dan menawarkannya kepada publik dengan menetapkan mawquf
alayh-nya dalam bentuk insentif guru mengaji, umrah marbot, makam untuk dhuafa,
dan sebagainya. Bahkan ada juga yang ingin menetapkan wakif sebagai mawquf
alayh dalam produk wakafnya dengan memberikan manfaat wakaf atau sebagian dari
keuntungan pengelolaan wakaf kepada wakif, dengan alasan produk wakaf akan
mudah diterima dan untuk mendorong percepatan penghimpunan wakaf.



Meskipun mawquf alayh bentuknya bisa bermacam-macam tetapi
dalam penetapannya  ada batasan-batasan
atau syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama, yaitu:



1.            Mawquf
alayh harus berbentuk kebajikan sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan qurbah
atau pendekatan diri kepada-Nya. Ulama Hanafiyyah mensyaratkan pendekatan diri
kepada Allah yang sesuai dengan syariah Islam dan keyakinan wakif, sehingga
mereka berpendapat sah hukumnya wakaf dari seorang muslim atau non muslim untuk
sekolah, yatim piatu, dhuafa, fakir miskin yang muslim dan yang non muslim, dan
yang semisalnya. Tidak sah wakaf dari seorang muslim atau non muslim untuk
tempat ibadah non muslim seperti gereja, dan tidak sah wakaf dari non muslim
untuk masjid kecuali untuk baitul maqdis. Sementara ulama Syafi’iyyah,
Hanabilah, dan Malikiyyah tidak mensyaratkan qurbah tetapi mensyaratkan tidak
boleh untuk kemaksiatan atau atau diberikan kepada pelaku maksiat, seperti
pencuri dan peminum khamr.



2.            Mawquf
alayh harus merupakan pihak yang tidak terputus. Dalam membahas syarat yang
kedua ini, ada dua istilah yang perlu dipahami yaitu al-waqf al-munqati’ dan
al-waqf gayr al-munqati’. Al-waqf al-munqati’ adalah wakaf yang manfaatnya
diberikan kepada pihak yang bisa punah, dan setelahnya tidak ada ketetapan
untuk diberikan kepada pihak yang tidak terputus. Adapun al-waqf gayr
al-munqati’ adalah wakaf yang manfaatnya diberikan kepada pihak yang tidak bisa
punah seperti fakir miskin, atau wakaf yang manfaatnya diberikan kepada pihak
secara berkelanjutan tanpa putus. Ulama Syafi’iyyah dan Hanafiyyah berpendapat  tidak boleh manfaat wakaf diberikan kepada
pihak yang terputus, tetapi menurut Hanabilah manfaat wakaf boleh diberikan
kepada pihak yang terputus, sedangkan menurut ulama Malikiyyah al-waqf
al-munqati’ tidak boleh karena mereka membolehkan wakaf untuk jangka waktu
tertentu atau wakaf sementara dan wakaf untuk jangka waktu selamanya atau wakaf
selamanya, jika pihak yang menerima manfaat wakaf terputus maka diberikan
kepada fakir miskin yang paling dekat silsilahnya dengan wakif untuk wakaf
selamanya, sedangkan untuk wakaf sementara yang penerima manfaat wakafnya
terputus maka wakafnya kembali menjadi milik wakif atau ahli warisnya. 



3.            Manfaat
wakaf tidak boleh kembali kepada wakif atau wakif tidak boleh menerima manfaat
wakaf dengan menjadi mawquf alayh. Hal ini karena dengan telah diwakafkannya
harta benda milik wakif maka kepemilikannya atas harta benda wakaf itu telah
hilang, dan ia tidak boleh menerima manfaat dari harta benda yang telah
diwakafkannya kecuali jika ia termasuk ke dalam mawquf alayh yang umum, seperti
seseorang yang mewakafkan masjid maka ia boleh melaksanakan shalat di masjid
tersebut. Apabila manfaat wakaf kembali kepada wakif, maka mayoritas ulama
berpendapat wakafnya tidak sah karena bertentangan dengan keluarnya harta benda
wakaf dari kepemilikan wakif, juga karena wakif tidak boleh memiliki untuk
dirinya dari harta benda miliknya yang telah diwakafkan. Namun menurut Abu
Yusuf wakafnya tetap sah karena wakaf telah terlaksana dengan ucapan tanpa
penyerahan.



4.            Mawquf
alayh harus merupakan pihak yang boleh untuk memiliki. Para ulama sepakat bahwa
wakaf adalah kepemilikan manfaat, maka tidak boleh menjadi mawquf alayh kecuali
yang boleh memiliki seperti manusia, atau yang mempunyai manfaat seperti
masjid, sekolah, dan rumah sakit.



 



Selanjutnya yang perlu untuk diperhatikan bahwa kehadiran
mawquf alayh tidak disyaratkan pada saat ikrar wakaf, seperti wakaf yang
manfaatnya untuk Zaid dan anak-anaknya serta keturunannya, dan setelah mereka
untuk fakir miskin, atau untuk masjid. Demikian juga tidak disyaratkan mawquf
alayh harus ditentukan dengan nama dan dibatasi, sebab dimungkinkan mawquf
alayh ditentukan dengan sifat tanpa dibatasi seperti fakir miskin, fuqaha, para
imama dan khotib. Apabila ketika ikrar wakaf, mawquf alayh belum ditentukan
maka yang menjadi mawquf alayh adalah fakir miskin, mereka yang berhak untuk
menerima manfaat wakaf sebab penyaluran manfaat wakaf asalnya untuk fakir
miskin.



Mengenai kehadiran mawquf alayh, disebutkan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Wakaf Pasal 30
ayat (1) Pernyataan kehendak wakif dituangkan dalam bentuk Akta Ikrar Wakaf
sesuai dengan jenis harta benda yang diwakafkan, diselenggarakan dalam Majelis
Ikrar Wakaf yang dihadiri oleh nazhir, mawquf alayh, dan sekurang-kurangnya 2
(dua) orang saksi. Ayat (2) Kehadiran nazhir dan mawquf alayh dalam Majelis
Ikrar Wakaf untuk wakaf benda bergerak berupa uang dapat dinyatakan dengan
surat pernyataan nazhir dan/atau mawquf alayh. Ayat (3) Dalam hal mawquf alayh adalah
masyarakat luas (publik), maka kehadiran mawquf alayh dalam Majelis Ikrar Wakaf
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak disyaratkan.



Akhirnya, jika wakif tidak boleh menerima manfaat wakaf atau
menjadi mawquf alayh, tidak demikian dengan anak dan keturunan wakif, mereka
boleh menerima manfaat wakaf apabila wakafnya dalam bentuk wakaf ahli (wakaf
keluarga), yaitu wakaf yang manfaatnya diperuntukkan bagi kesejahteraan umum
sesama kerabat berdasarkan hubungan darah (nasab) dengan wakif, atau wakafnya dalam
bentuk wakaf musytarak (wakaf gabungan) antara wakaf ahli dan wakaf khairi,
yaitu wakaf yang sebagian manfaatnya untuk kesejahteraan keluarga wakif, dan
sebagian manfaatnya lagi untuk kesejahteraan umat. Maka strategi yang harus
dipilih untuk memperbanyak wakaf adalah membuat produk wakaf yang manfaatnya
untuk kesejahteraan keluarga wakif dan/atau yang manfaatnya untuk kesejahteraan
keluarga wakif dan juga untuk kesejahteraan umat, bukan dengan membuat produk
wakaf yang menjadikan wakif sebagai mawquf alayh (penerima manfaat wakaf)
karena ulama melarangnya.



GRAHA PKPU Lt. 3
Jl. Raya Condet No. 27 G, Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Fax : (021) 877 800 13
Telephone : 021-87780015 Ext. 138
Email : info@iwakaf.or.id
Website : iwakaf.or.id
LINK - LINK LAINNYA

Daftar Bank iWakaf
Event
Konfirmasi Pembayaran
Berita & Laporan
Daftar Nama Wakif
Free eBooks