Call Center 021-87780015 Ext. 138
21 Mei 2019 13:52:28

MAUKUF 'ALAIH

Oleh : Dr. Fahruroji, Lc,
MA



Dalam satu kesempatan me-review sebuah laporan pengelolaan
wakaf, saya menemukan catatan hasil pengelolaan wakaf lebih banyak dialokasikan
untuk memperbesar atau menambah usaha atau harta wakaf baru, sedangkan yang
dialokasikan untuk mawquf alayh hanya sedikit. Ketika nazhir yang membuat
laporan tersebut dimintai keterangan, ia menyampaikan bahwa distribusi hasil
pengelolaan wakaf yang mayoritasnya untuk membentuk wakaf baru dengan menambah
atau memperbesar usaha/kegiatan wakaf dilakukan karena ia menganggap hal itu
sudah benar dan telah sesuai dengan tujuan wakaf.





Laporan pengelolaan wakaf lain yang saya review, menunjukkan
belum adanya alokasi untuk mawquf alayh dari surplus pendapatan yang diperoleh
sebuah usaha/jasa berbasis wakaf. Ada juga nazhir yang mengelola lembaga yang
cukup besar  ketika ditanyakan kepadanya
hak mawquf alayh berupa beasiswa pendidikan, jawaban yang disampaikan bahwa
lembaganya pun masih membutuhkan bantuan dana untuk pengembangan atau
pembentukan aset wakaf baru di tempat lain.





Uraian beberapa laporan pengelolaan wakaf di atas yang belum
menempatkan mawquf alayh sebagai fokus terpenting dalam distribusi hasil
pengelolaan wakaf, mengisyaratkan adanya persoalan pemahaman tentang mawquf
alayh yang belum memadai sehingga haknya terabaikan atau jikapun dipenuhi
tetapi porsinya masih kecil. Lantas apa yang dimaksud dengan mawquf alayh,
siapakah yang menentukan mawquf alayh, apakah hasil pengelolaan wakaf
seluruhnya harus disalurkan kepada mawquf alayh atau sebagiannya dapat
digunakan untuk biaya pemeliharaan/renovasi, dan bolehkah sebagian hasilnya
digunakan untuk membeli/membentuk wakaf baru.





Mawquf alayh adalah pihak yang memperoleh manfaat wakaf.
Menurut peraturan perundang-undangan tentang wakaf mawquf alayh adalah pihak
yang ditunjuk untuk memperoleh manfaat dari peruntukan harta benda wakaf sesuai
pernyataan kehendak wakif yang dituangkan dalam Akta Ikrar Wakaf. Kedudukan
mawquf alayh sangat penting dalam wakaf karena keberlangsungan pahala yang
diterima wakif atas wakafnya tergantung pada kemanfaatan wakafnya yang
berkelanjutan dalam mewujudkan kebaikan atau kemaslahatan. Dalam hal mawquf
alayh, wakif adalah pihak yang memiliki kewenangan untuk menetapkannya pada
saat ia mewakafkan hartanya, dan nazhir yang menerima amanah dari wakif untuk
mengelola harta benda wakaf berkewajiban untuk melaksanakannya. Oleh karena
itu, wakif harus memahami atau diberi pemahaman tentang mawquf alayh sehingga
harta benda yang diwakafkannya benar-benar bermanfaat untuk kemaslahatan umat,
bukan hanya dimanfaatkan oleh nazhir untuk kepentingannya.





Mengenai penetapan mawquf alayh  ini, ada hal yang perlu diluruskan yaitu
penyebutannya dengan peruntukan harta benda wakaf. Ketika mawquf alayh
disebutkan dengan peruntukan harta benda wakaf maka praktiknya sering berhenti
pada penggunaan harta benda wakaf, misalnya peruntukan tanah wakaf untuk
sekolah yang berhenti pada penggunaan tanah wakaf itu untuk sekolah.
Persoalannya bagaimana jika sekolah itu bersifat komersil dengan uang
pembayaran yang mahal yang tentunya menghasilan keuntungan, ke mana uang
keuntungan itu harus disalurkan? Di sinilah pentingnya membedakan antara mawquf
alayh dan peruntukan harta benda wakaf, penggunaan tanah wakaf untuk sekolah
merupakan peruntukan harta benda wakaf, sedangkan siswa berbeasiswa misalnya
sebagai mawquf alayh atau pihak yang memperoleh manfaat atau keuntungan yang
diperoleh dari penggunaan tanah wakaf yang untuk sekolah itu. Jadi, ketika
pelaksanaan ikrar wakaf tidak cukup hanya disebutkan peruntukan harta benda
wakaf tapi harus juga disebutkan mawquf alayh-nya.





Bagaimana jika wakif tidak menyebutkan peruntukan harta
benda wakaf dan mawquf alayh-nya atau hanya menyebutkan peruntukannya saja?
Dalam persoalan ini kembali kepada tujuan wakaf, nazhir harus menetapkan peruntukan
harta benda wakaf dan mawquf alayh-nya sesuai dengan tujuan wakaf yang selain
untuk tujuan beribadah kepada Allah SWT, juga bertujuan untuk peningkatan
kesejahteraan sosial dan ekonomi. Jika mawquf alayh ini diabaikan atau kurang
mendapat perhatian, maka wakaf akan kehilangan peran strategisnya sebagai
instrumen kemajuan umat. Sebaliknya, jika mawquf alayh ini ditempatkan sesuai
dengan tujuan wakaf, maka wakaf akan menjadi instrumen penting kemajuan umat
sebagaimana kemajuan peradaban Islam pada masa lalu yang penopang utamanya
adalah wakaf. Terwujudnya pendidikan gratis, kesehatan gratis, perpustakaan
gratis, merupakan contoh mawquf alayh dalam kegiatan wakaf pada masa kejayaan
peradaban Islam.





Mengenai penyaluran hasil pengelolaan wakaf, apakah seluruhnya
harus disalurkan kepada mawquf alayh atau sebagiannya boleh dikelola untuk
pengembangan wakaf/pembentukan wakaf baru, dan apakah boleh dipakai untuk biaya
perbaikan harta benda wakaf atau pemeliharaannya. Dalam hal penggunanaan hasil
pengelolaan wakaf untuk pengembangan wakaf/pembentukan wakaf baru, keputusan
Lembaga Fikih Islam menyatakan bahwa hasil pengelolaan wakaf khairy (wakaf
sosial) sebagiannya boleh dipakai untuk pengembangan wakaf atau pembentukan
wakaf baru, sedangkan untuk wakaf ahly (wakaf keluarga) harus mendapat izin
dari keluarga penerima manfaat wakaf (mawquf alayh) apabila sebagian hasil
pengelolaan wakaf akan dipakai untuk pengembangan wakaf. Hasil pengelolaan
wakaf juga sebagiannya boleh dipakai untuk biaya perbaikan harta benda wakaf
atau pemeliharaannya, sehingga harta benda wakaf dapat terus dimanfaatkan atau
menghasilkan manfaat, bahkan apabila perbaikannya membutuhkan biaya yang besar
maka seluruh  hasil pengelolaan wakaf
boleh digunakan untuk biaya perbaikan harta benda wakaf, dengan maksud agar
harta benda wakaf  tetap terjaga dan
dapat digunakan sesuai dengan tujuan wakaf.





Dalam kaitannya dengan hasil pengelolaan wakaf ini, Badan
Wakaf Indonesia telah memberikan pedoman berupa ketetapan pembagian hasil
bersih pengelolaan wakaf yaitu hasil pengelolaan wakaf setelah dikurangi biaya
operasional dan pajak (kalau ada) sebagai berikut: maksimal 10 % adalah hak
nazhir, minimal 50% hak mawquf alayh, dan sisanya untuk cadangan yaitu biaya
pemeliharaan, biaya asuransi, reinvestasi atau pengembangan wakaf/pembentukan
wakaf baru, dan biaya-biaya lainnya yang diperlukan. Akhirnya, keberhasilan
pengelolaan wakaf terletak pada seberapa besar manfaat wakaf diterima oleh
mawquf alayh.



GRAHA PKPU Lt. 3
Jl. Raya Condet No. 27 G, Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Fax : (021) 877 800 13
Telephone : 021-87780015 Ext. 138
Email : info@iwakaf.or.id
Website : iwakaf.or.id
LINK - LINK LAINNYA

Daftar Bank iWakaf
Event
Konfirmasi Pembayaran
Berita & Laporan
Daftar Nama Wakif
Free eBooks