Call Center 021-87780015 Ext. 138
21 Mei 2019 14:00:00

BERLOMBA - LOMBA DALAM WAKAF

Oleh : Dr. Fahruroji, Lc,
MA



Dalam sebuah atsar dari Jabir bin Abdullah disebutkan bahwa
“semua sahabat Rasulullah yang memiliki harta melakukan wakaf, tidak dijual,
tidak dihibahkan, dan tidak diwarisi”. Sebut saja misalnya Umar bin Khattab
yang mewakafkan sebidang tanah miliknya di Khaibar, Abu Thalhah yang mewakafkan
kebun kurma Bairoha, Utsman bin Affan yang mewakafkan sumur Raumah, Ali bin Abi
Thalib yang mewakafkan tanah Yanbu’, Zubair bin Awwam yang mewakafkan rumahnya,
dan sahabat Rasulullah lainnya seperti Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, Aisyah
Ummul Mu’minin, Asma binti Abu Bakar, Saad bin Abi Waqas, Khalid bin Walid,
Jabir bin Abdullah, Saad bin Ubadah, Uqbah bin Amir, dan Abdullah bin Zubair.



Para sahabat Rasulullah yang mewakafkan hartanya tersebut
seperti saling berlomba-lomba dalam berwakaf karena ingin memperoleh keutamaan
wakaf yaitu memperoleh pahala yang terus mengalir atas manfaat harta yang
diwakafkannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:



إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ
مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ



“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau
do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)



Shodaqah jariyah dalam hadis tersebut dimaknai sebagai wakaf
karena pokok harta yang diwakafkan ditahan, yang disalurkan atau dibagikan
adalah hasilnya.



Para sahabat Rasulullah bukan hanya berlomba dalam berwakaf,
bahkan mereka berlomba-lomba menyerahkan harta terbaik yang dimilikinya untuk
diwakafkan. Tanah di Khaibar yang diwakafkan oleh Umar bin Khattab adalah tanah
terbaik dan paling berharga yang dimilikinya, sebagaimana disebutkan dalam
hadis Nabi SAW yang artinya:



Dari Ibnu Umar, ia berkata: Umar memperoleh tanah di
Khaibar, lalu dia bertanya kepada Nabi dengan berkata: Wahai Rasulullah, saya
telah memperoleh tanah di Khaibar yang nilainya tinggi dan tidak pernah saya
peroleh yang lebih tinggi nilainya dari padanya. Apa yang Baginda perintahkan
kepada saya untuk melakukannya? Sabda Rasulullah: “ Kalau kamu mau, tahan
sumbernya dan sedekahkan manfaat atau faedahnya.” Lalu Umar menyedekahkannya,
ia tidak boleh dijual, diwariskan, dan diberikan. Umar menyedekahkan kepada
faqir miskin, untuk keluarga, untuk memerdekakan budak, untuk orang yang
berperang di jalan Allah, orang musafir dan para tamu. Dan tidak mengapa atau
tidak dilarang bagi yang mengurus wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang
baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk
harta. (HR, Muslim)



Lalu, Kebun Bairoha yang diwakafkan oleh Abu Thalhah adalah
harta miliknya yang paling berharga dan paling dicintainya. Setelah turun ayat
al-Qur’an:



لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ



Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang
sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. (QS. Ali
Imran: 92)



Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan berkata: Wahai
Rasulullah sungguh harta yang paling kucintai adalah Bairoha, dan saya jadikannya
sedekah (wakaf) karena Allah...(HR. Bukhari dan Muslim)



Wakaf yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah diteruskan
oleh umat Islam yang pada akhirnya wakaf menjadi kunci kemajuan peradaban
Islam. Oleh karena itu, jika kemajuan peradaban Islam hendak diraih lagi maka
sistem wakaf harus berkembang dan maju serta umat Islam berlomba-lomba dalam
berwakaf.



GRAHA PKPU Lt. 3
Jl. Raya Condet No. 27 G, Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Fax : (021) 877 800 13
Telephone : 021-87780015 Ext. 138
Email : info@iwakaf.or.id
Website : iwakaf.or.id
LINK - LINK LAINNYA

Daftar Bank iWakaf
Event
Konfirmasi Pembayaran
Berita & Laporan
Daftar Nama Wakif
Free eBooks