Call Center 021-87780015 Ext. 138
21 Mei 2019 14:01:41

HUKUM WAKAF UANG

Oleh : Dr. Fahruroji, Lc,
MA



Dalam sebuah acara sosialisasi wakaf, salah seorang peserta
mengemukakan bahwa program wakaf uang di lembaganya belum dapat dijalankan
karena masih terjadi pro kontra mengenai kebolehannya. Penjelasan lain tentang
pro kontra wakaf uang sering disampaikan kepada penulis, bahkan di satu tempat
dijelaskan bahwa wakaf uang dihukumi haram oleh ulama setempat. Bagaimana
sesungguhnya hukum wakaf uang?



Memang wakaf asalnya dilakukan terhadap harta benda yang
dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, sedangkan harta benda yang lenyap
ketika dimanfaatkan seperti dinar, dirham, atau uang kertas, maka ulama berbeda
pendapat mengenai hukumnya yang terbagi kepada tiga pendapat:



Pendapat pertama, wakaf uang hukumnya boleh, ini adalah
pendapat Zufar dari mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, dan pendapat sebagain ulama
mazhab Syafi’i. Pendapat ini yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Menurut mereka, wakaf uang dijadikan sebagai modal usaha yang keuntungannya
disalurkan kepada mauquf alayh sesuai tujuan wakafnya. Mereka juga berpendapat
wakaf uang boleh digunakan sebagai pinjaman.



Pendapat kedua, wakaf uang hukumnya tidak boleh, ini adalah
pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanafi, pendapat sebagian ulama mazhab
Maliki, pendapat yang masyhur dalam mazhab Syafi’i, dan pendapat mazhab
Hanbali. Menurut mereka wakaf harta benda yang tidak dapat dimanfaatkan kecuali
dengan lenyap bendanya seperti wakaf dinar, dirham, makanan, dan minuman
hukumnya tidak boleh. Dalil yang digunakan bahwa wakaf adalah menahan pokok
harta dan menyalurkan manfaatnya, sehingga benda apa saja yang tidak dapat dimanfaatkan
kecuali dengan lenyap bendanya maka tidak sah wakafnya.



Dalil ini dapat dibantah bahwa maksud menahan pokok harta
dapat diwujudkan pada wakaf uang dengan mempertahankan nilainya, sementara
dzatnya bukan tujuan karena uang tidak ditentukan semata-mata bendanya.



Pendapat ketiga, wakaf uang hukumnya boleh tetapi makruh,
ini adalah pendapat sebagian ulama mazhab Maliki. Dalam kitab Mawahib Jalil
disebukan bahwa wakaf dinar dan dirham atau apa saja yang bendanya lenyap jika
dimanfaatkan, maka hukumnya makruh. Pendapat ini nampak ganjil karena bagaimana
mungkin wakaf dihukumi makruh padahal wakaf adalah taqarrub (pendekatan) kepada
Allah, maka hanya ada dua hukum yaitu boleh dan tidak boleh.



Oleh karena terjadi perbedaan pendapat tentang hukum wakaf
uang sebagaimana dijelaskan di atas, maka Majelis Ulama Indonesia pada tanggal
11 Mei 2002 mengeluarkan fatwa tentang kebolehan wakaf uang, dengan
pertimbangan antara lain wakaf uang memiliki fleksibilitas (keluwesan) dan
kemaslahatan besar yang tidak dimiliki oleh benda lain. Fatwa MUI juga
menyebutkan pendapat ulama klasik yang membolehkan wakaf uang, yaitu: Pertama,
pendapat Imam al-Zuhri yang menyatakan bahwa mewakafkan dinar hukumnya boleh,
dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha kemudian
keuntungannya disalurkan kepada mawqūf ʻalayh. Kedua, pendapat mutaqaddimin
dari ulama mazhab Hanafi yang membolehkan wakaf uang dinar dan dirham sebagai
pengecualian, atas dasar istiḥsān bi al-ʻurf. Ketiga, pendapat sebagian ulama
mazhab Syafi’i yang diriwayatkan oleh Abu Tsaur tentang kebolehan wakaf dinar
dan dirham (uang).





Kebolehan wakaf uang juga diputuskan dalam sidang ke-15
Majma’ al-Fiqh al-Islami di Muscat Oman tahun 2004 yang menetapkan:



Pertama, wakaf uang hukumnya boleh menurut syara karena
tujuan syara dalam masalah wakaf adalah menahan pokok harta dan menyalurkan
manfaatnya dapat diwujudkan dengan uang, dan karena uang tidak ditentukan
semata-mata bendanya tetapi barang penggantinya menggantikan posisi uang.





Kedua, wakaf uang boleh digunakan untuk memberikan pinjaman
(al-qardhu al-hasan), untuk investasi baik secara langsung, atau dengan
partisipasi sejumlah wakif dalam satu program, atau dengan cara menerbitkan
saham wakaf untuk mendorong gerakan wakaf atau mewujudkan keterlibatan publik
dalam perwakafan.





Ketiga, jika uang wakaf diinvestasikan pada properti seperti
nazhir membeli gedung atau membuat produk barang, maka harta benda tersebut
bukan sebagai wakaf sehingga boleh dijual demi kelangsungan investasi, dan yang
menjadi wakaf adalah uangnya.





Wakaf uang akan memberikan kesempatan kepada siapa saja
untuk berwakaf karena tidak ada batasan jumlahnya sehingga pahala wakaf yang
mengalir dapat diraih oleh siapapun, dan tentunya sebagai wakaf akan dijaga
pokoknya dengan menginvestasikannya dalam berbagai bentuk investasi yang
hasilnya digunakan untuk membiayai program-program sosial. Maka, sudah
semestinya kita tidak lagi memperdebatkan atau mengharamkan wakaf uang sebab
yang dinantikan adalah aksi dari kita untuk berwakaf uang guna meningkatkan
kesejahteraan umat, membiayai kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah serta
menjadikan umat Islam hidup bermartabat.



GRAHA PKPU Lt. 3
Jl. Raya Condet No. 27 G, Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Fax : (021) 877 800 13
Telephone : 021-87780015 Ext. 138
Email : info@iwakaf.or.id
Website : iwakaf.or.id
LINK - LINK LAINNYA

Daftar Bank iWakaf
Event
Konfirmasi Pembayaran
Berita & Laporan
Daftar Nama Wakif
Free eBooks