Call Center 021-87780015 Ext. 138
23 Mei 2019 11:34:35

WAKAF MANFAAT

Oleh : Dr. Fahruroji, Lc,
MA



Pada umumnya pembahasan tentang wakaf di tengah masyarakat
berkisar tentang benda baik benda yang tidak bergerak maupun benda yang
bergerak, padahal selain benda ada pendapat yang menyatakan bahwa wakaf dapat
dilakukan tanpa mewakafkan bendanya tapi yang diwakafkan adalah manfaat atau
hasil harta benda milik dan manfaat harta benda sewa yang selanjutnya disebut
dengan wakaf manfaat. Wakaf manfaat memang tidak begitu dikenal oleh masyarakat
di Indonesia yang dalam persoalan ibadah termasuk wakaf mengambil pendapat-pendapat
dari mazhab Syafi’i. Dalam mazhab Syafi’i wakaf manfaat tidak dikenal bahkan
tidak diperbolehkan karena wakaf menurut mazhab Syafi’i adalah “menahan harta
yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya, dengan cara tidak melakukan
tindakan hukum terhadap benda tesebut, disalurkan pada sesuatu yang mubah
(tidak haram) yang ada.” Dari definisi ini jelas bahwa wakaf dilakukan terhadap
harta benda dan menyalurkan manfaatnya, sedangkan wakaf manfaat hanya
mewakafkan manfaat harta benda bukan harta bendanya yang diwakafkan.





Lantas, mazhab apa yang membahas dan memperbolehkan wakaf
manfaat? Wakaf manfaat dibahas dan diperbolehkan oleh mazhab Maliki sebagaimana
dijelaskan dalam pengertian wakaf menurut mazhab Maliki yaitu menjadikan
manfaat harta benda milik meskipun dengan sewa atau hasilnya untuk mauquf alaih
(penerima manfaat) untuk jangka waktu yang diinginkan oleh wakif (wakaf
sementara atau wakaf selamanya). Mazhab maliki berpendapat bahwa yang
diwakafkan adalah manfaat harta benda milik atau manfaat harta benda sewa atau
hasil harta benda milik, bukan harta bendanya yang diwakafkan karena harta
bendanya tetap menjadi milik wakif meskipun wakif tidak boleh melakukan
tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta benda tersebut.





Ada dua pertimbangan mengapa manfaat dapat diwakafkan:
pertama, manfaat merupakan objek akad baik akadnya dengan harta bendanya maupun
akadnya terhadap manfaatnya saja tanpa harta bendanya, misalnya akad sewa yang
jadi objek sewa adalah manfaat. Kedua, manfaat dianggap sebagai harta karena
harta diciptakan untuk kemaslahatan manusia, demikian juga manfaat. Benda tidak
akan menjadi harta kecuali benda itu bermanfaat, maka benda yang tidak
bermanfaat bukan sebagai harta. Demikian juga syariat membolehkan manfaat sebagai
mahar, padahal mahar itu adalah harta. Jadi manfaat dianggap sebagai
harta. 





Pembahasan tentang wakaf manfaat terbagi menjadi tiga
masalah yaitu: wakaf harta benda dan manfaatnya, wakaf harta benda tanpa
manfaatnya, dan wakaf manfaat tanpa harta bendanya baik manfaatnya berupa benda
maupun bukan benda.





Pertama: wakaf harta benda dan manfaatnya. Wakaf jenis ini
sebagai asal disyariatkannya wakaf, ketika disebutkan wakaf maka wakafnya
terdiri atas harta benda dan manfaatnya. Para fuqaha mendefinisikan wakaf
sebagai “menahan harta benda dan mensedekahkan manfaatnya”, maka manfaat
sebagai dasar dari wakaf sehingga jika tidak ada manfaat yang diharapkan dari
wakaf maka wakaf tidak ada faidahnya. Untuk itu, di antara syarat harta benda
yang akan diwakafkan adalah harta benda yang bermanfaat sehingga apabila yang
diwakafkan bukan harta benda yang bermanfaat maka wakafnya tidak sah.





Kedua, wakaf harta benda tanpa manfaatnya. Jika ada wakif
yang mewakafkan harta benda miliknya dengan mengecualikan manfaatnya untuk
jangka waktu tertentu atau selama wakif masih hidup, apakah hal ini
diperbolehkan? Sebagai contoh seseorang mewakafkan tanah dengan mengecualikan
hasilnya, atau seseorang mewakafkan hewan untuk tunggangan dengan mengecualikan
susunya dan anaknya. Ada dua kondisi dalam masalah ini sebagai berikut:



Kondisi pertama: mengecualikan manfaat wakaf semuanya.
Mengenai kebolehan mengecualikan manfaat wakaf untuk jangka waktu tertentu atau
selama wakif masih hidup, ada dua pendapat fuqaha, pendapat pertama: boleh
mengecualikan manfaat wakaf untuk jangka waktu tertentu atau selama wakif masih
hidup. Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Hanbali, Abu Yusuf dari mazhab
Hanafi, Ibnu Suraih dari mazhab Syafi’i, Ibnu Abi Laeli, dan Ibnu Syubromah.
Pendapat kedua: tidak boleh mengecualikan sesuatu dari wakaf karena apabila
sudah terjadi ikrar wakaf maka seluruh manfaatnya menjadi milik mauquf alaih
(penerima manfaat). Pendapat ini merupakan pendapat mazhab Maliki, mazhab
Syafi’i, dan Muhammad bin Hasan dari mazhab Hanafi.



Kondisi kedua, mengecualikan sebagian manfaat harta benda
wakaf. Sebagai contoh seseorang mewakafkan hewan untuk tunggangan dengan
mengecualikan susunya dan anaknya. Para fuqaha telah menetapkan kebolehan wakaf
tersebut selama masih ada manfaat yang diwakafkan. Jika ada wakaf seperti itu,
maka manfaat yang dikecualikan oleh wakif tidak termasuk dalam wakaf. Hal ini
termasuk syarat wakif yang diperbolehkan.





Ketiga, wakaf manfaat tanpa harta bendanya.



Berikut ini beberapa contoh wakaf manfaat tanpa harta
bendanya: wakif mewakafkan hasil pertanian dan buah-buahan, susu hewan dan
anaknya, hak-hak yang bernilai uang seperti hak pengarang, dan hak cipta, atau
mewakafkan penggunaan benda seperti menempati rumah, menaiki kendaraan, membaca
buku, dan sebagainya yang termasuk manfaat yang bukan benda. Semua itu tanpa
mewakafkan harta benda yang darinya muncul hasil, hak-hak, dan manfaat yang
bukan benda. Menurut mazhab Maliki dan Ibnu Taimiyah wakaf manfaat dibolehkan
karena bagi mereka manfaat itu harta yang dimiliki sehingga boleh diwakafkan.
Sementara menurut mayoritas ulama, wakaf manfaat tidak diperbolehkan karena
beberapa sebab: Pertama, wakaf mengharuskan untuk menahan bendanya agar dapat
mewujudkan manfaat sepanjang waktu, sedangkan wakaf manfaat tanpa bendanya
tidak dapat mewujudkan hal tersebut. Kedua, dalam wakaf yang menjadi pokoknya
adalah harta benda dan cabangnya adalah manfaat, cabang harus mengikuti
pokoknya dan tidak terpisah dari pokoknya. Ketiga, manfaat tidak mungkin
ditetapkan atau belum ada pada saat wakaf sehingga tidak boleh diwakafkan.
Keempat, tidak ada nash yang membolehkan wakaf manfaat, yang ada nash yang
menjelaskan wakaf harta benda. Masalah ketiadaan nash ini tidak seharusnya
menjadi alasan karena akan muncul pendapat seperti zakat tidak wajib kecuali
yang sudah ada nashnya, tidak ada riba kecuali yang sudah dijelaskan oleh nash,
dan sebagainya.  





Dalam wakaf manfaat, harta benda tetap menjadi milik
pemiliknya yang ahli warisnya berhak mewarisinya, pemiliknya boleh melakukan
tindakan apapun atas harta benda itu kecuali tindakan yang menghalangi penerima
manfaat memperoleh manfaat wakaf. Pertanyaannya untuk apa pemilik harta benda
memertahankan kepemilikannya padahal manfaatnya sudah tidak diperoleh karena
telah diwakafkan. Jawabannya, masih ada manfaat yang diperoleh pemilik harta di
antaranya: Pertama, terkadang suatu harta benda menghasilkan banyak manfaat,
sebagian manfaat itu diwakafkan dan sebagiannya lagi diambil manfaatnya oleh
pemilik harta, Kedua, terkadang manfaat diwakafkan untuk jangka waktu sementara
bukan untuk untuk jangka waktu selamanya sebagaimana yang dibolehkan menurut
mazhab Maliki. Dalam kondisi ini wakaf terjadi terhadap manfaat harta benda
bukan terhadap harta bendanya. Ketiga, kepemilikan merupakan sebuah tujuan yang
diakui meskipun pemiliknya tidak memperoleh hasil atau manfaat. Keempat,
terkadang harta benda itu adalah manfaat dan hak bukan materi seperti hak
irtifaq (hak atas air irigasi, hak kanal atau saluran air, hak lewat, hak
saluran pembuangan air, dan sebagainya), hak-hak maknawi (perizinan, hak cipta,
dan sebagainya), dan manfaat pekerjaan di mana wakafnya bukan terhadap
pekerjanya tetapi terhadap pekerjaaannya atau profesinya.





Fuqaha yang membolehkan wakaf manfaat, menetapkan
syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mewujudkan tujuan wakaf yang sesuai
syariah, yaitu: Pertama, manfaat yang diwakafkan harus dari harta benda yang
halal. Kedua, manfaat yang diwakafkan adalah manfaat yang halal. Ketiga,
manfaat yang diwakafkan milik wakif. Bagaimana dengan orang yang memiliki
manfaat saja tanpa memiliki bendanya, seperti orang yang menyewa rumah kemudian
ia wakafkan penempatan rumah itu? Mazhab Maliki membolehkan wakaf manfaat
secara mutlak baik wakifnya memiliki bendanya atau tidak memilikinya, atau memiliki
manfaat selamanya atau sementara. Sementara Ibnu al-Hajiz dan Ibnu Syas tidak
membolehkan wakaf manfaat yang diperoleh dari sewa. Keempat, manfaat yang
diwakafkan dapat diwujudkan.





Kebolehan wakaf manfaat dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
masyarakat, misalnya penyediaan tempat tinggal atau asrama bagi fakir miskin,
anak yatim, pelajar/mahasiswa, gelandangan atau tuna wisma, sarana transportasi
untuk dai, pelajar, layanan kesehatan dari dokter, layanan pendidikan dari guru
atau dosen, layanan pekerjaan atau jasa dari berbagai profesi.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut jika terpenuhi berdampak besar dalam mewujudkan
kesejahteraan dan tujuan syariah.





Sesungguhnya praktiknya sudah ada dan banyak di tengah
masyarakat, hanya saja kebanyakan tidak menganggapnya sebagai wakaf padahal hal
itu termasuk wakaf manfaat menurut yang membolehkannya, seperti seseorang yang
memiliki banyak rumah, di antara rumahnya itu ditempati oleh orang lain atau
untuk asrama penghapal al-Qur’an tanpa membayar sewa, gedung atau kantor yang
ditempati tanpa dikenakan sewa, kendaraan motor atau mobil yang digunakan untuk
antar jemput pelajar, dai tanpa dipungut bayaran, dan sebagainya.





Meskipun wakaf manfaat memiliki dampak besar dalam
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hanya saja peraturan-perundang-undangan
tentang wakaf tidak mengakomodirnya sebagai wakaf. Wakaf yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan hanya meliputi wakaf benda baik benda tidak
bergerak maupun benda bergerak. Hanya saja, ketika mengatur benda bergerak yang
dapat diwakafkan disebutkan antara lain hak kekayaan intelektual yang menurut
fuqaha yang membolehkan wakaf manfaat, hak kekayaan intelektual termasuk wakaf
manfaat.



GRAHA PKPU Lt. 3
Jl. Raya Condet No. 27 G, Batu Ampar, Jakarta Timur 13520
Fax : (021) 877 800 13
Telephone : 021-87780015 Ext. 138
Email : info@iwakaf.or.id
Website : iwakaf.or.id
LINK - LINK LAINNYA

Daftar Bank iWakaf
Event
Konfirmasi Pembayaran
Berita & Laporan
Daftar Nama Wakif
Free eBooks